Al-Quran dan Neurosains

Oleh: Muhammad Iqbal Basri (Departemen Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, Makassar)

Abstrak

Tidak bisa dipungkiri, Islam pernah berjaya dalam dunia sains dan teknologi. Sebutlah misalnya Ibnu Sina, Al Biruni dan Ibnu Rushd. Mereka selain paham akan agama juga pakar dalam berbagai ilmu sains seperti kedokteran, kimia, astronomi dan bidang ilmu yang lainnya. Pendidikan dengan metode hybrid bisa menjadi solusi. Padatnya kurikulum di sekolah akan menjadi hambatan. Al-Quran adalah suatu kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, akan sangat membantu untuk memahami lebih dalam tentang kandungan al-Quran. Tulisan ini akan membahas kandungan al-Quran dalam perspektif neurosains. Selain itu, pada akhir tulisan ini kita akan juga melihat bagaimana peranan Islam dalam mewujudkan kesehatan fisik dan mental.

Pendahuluan

Saat ini, masih terdapat kesenjangan antara belajar agama dan belajar sains. Jika ingin belajar mendalami agama maka kita harus belajar di pesantren, dan sebaliknya jika ingin belajar sains maka kita disekolahkan di sekolah umum. Hal ini membuat kita masih kesulitan menemukan pakar sains tapi juga mempunyai pemahaman yang mendalam terhadap agama.  Padahal seharusnya agama dan sains dipelajari secara bersama-sama (hybrid programme), dan hal tersebut memungkinkan untuk dilakukan.

Terdapat suatu daerah di Afrika yang rata-rata anak-anaknya sudah dapat menghapal al-Quran dalam waktu yang masih belia, namun sayangnya setelah itu, anak-anak tersebut tidak pernah mendapatkan pendidikan sains secara formal. Demikian pula ada suatu tempat, pendidikan sains-nya sangat maju tapi tidak tahu tentang agama. Kenyataan itu terjadi karena kurikulum di sekolah sudah sangat padat. Akhirnya, pendidikan agama hanya menjadi pelajaran tambahan di sekolah dan hasilnya tentu tidak akan maksimal.

Jika kita melihat sejarah Islam, beberapa cendekiawan muslim saat itu, selain menguasai ilmu agama, juga menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan seperti matematika, astronomi, kedokteran, kimia, dan lainnya. Mereka diantaranya yaitu Avicenna atau Ibnu Sina (980-1037), Ahmad Al-Biruni (973-1048) dan Averroes atau Ibnu Rushd (1126-1198). Selain itu, mereka juga menghasilkan karya yang banyak dan fundamental seperti Avicenna, hafal al-Quran saat berusia 10 tahun, dikenal sebagai bapak ilmu kedokteran mengarang 450 buku selama hidupnya. Salah satu bukunya yaitu “The Book of Healing” dan “The Canon of Medicine” yang pernah menjadi standard medical textbook di Eropa.1

Terdapat suatu kisah yang menarik tentang Avicenna, pernah suatu waktu, dia mengalami kesulitan mempelajari teori Metafisika dari Aristoteles, hingga membaca buku tersebut sebanyak 40 kali tapi belum juga bisa memahaminya. Akhirnya beliau memutuskan untuk pergi berwudhu, lalu ke masjid, berdoa dan belajar hingga larut malam. Suatu hari beliau menemukan sebuah buku karangan Al-Farabi yang harganya hanya 3 dirham, yang membantunya memahami teori tersebut. Inilah salah ciri cendekiawan muslim sejati.1

…Dan bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarimu. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al Baqarah: 282)2

Dia (Allah) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al Alaq: 5)2

Apa itu Neurosains?

Neurosains adalah ilmu yang mempelajari system saraf, yang meliputi otak dan medulla spinalis. Neurosains merupakan ilmu yang multidisiplin meliputi ilmu anatomi, neurologi, psikologi, biomedical engineering, ilmu komputer.3 Ilmu ini dipergunakan untuk memahami berbagai fungsi saraf seperti memori, behaviour, persepsi dan kesadaran. Metode dan Teknik yang dipergunakan juga sangat bervariasi, seperti biologi molekuler, elektrophysiology, neuroimaging dan computational.3

Saat ini terdapat beberapa cabang neurosains diantaranya yaitu molecular and cellular neuroscience, cognitive and behavioral neuroscience, computational neuroscience, social neuroscience, dan neuroleadership.4

Keajaiban Otak

Pada saat kita lahir, jumlah sel otak (neuron) yang kita miliki sekitar 1012 atau 166 kali jumlah penduduk pada abad ke-21. Bisa dibayangkan berapa jumlah sel otak yang dimiliki oleh orang berusia 20 tahun. Tapi hal yang menakjubkan adalah sel-sel tersebut saling berkomunikasi satu sama lain dalam suatu sinaps. Jika terdapat 5 buah neuron, maka terdapat kemungkinan komunikasi sebanyak 10 buah sinaps (hukum permutasi). Pakar neurosaintis berpendapat bahwa sekitar 3 milyar sinaps dalam 2,5 mm3 cortex cerebri. Luas permukaan cortex cerebri itu sendiri sekitar 220.000 m2.

Alber Einstein, dianggap manusia paling jenius yang pernah hidup di dunia, ternyata hanya mampu memanfaatkan potensi otak tidak lebih dari 10%. Padahal dia telah menemukan teori relativitas sehingga menambah satu bab pada buku fisika. Kalau saya atau anda ditanya, kira-kira berapa persen dari potensi otak yang telah dimanfaatkan?

Salah satu kemampuan otak adalah mampu menyimpan dan mengelola informasi yang masuk. Hal ini kita kenal sebagai memori. Apakah kira-kira yang terjadi jika manusia tidak mempunyai memori?. Dalam ilmu neurosains, memori terdiri dari 3 komponen yaitu recording, retaining dan recall atau 3R. Jika salah satu komponennya tidak berfungsi dengan baik maka kita akan lupa. Coba anda menghafalkan 3 buah benda yang tidak berkaitan, setelah 10 menit kemudian,dapatkah anda menyebutkan kembali benda tersebut? Meskipun demikian, otak kita tidak bisa bekerja sendiri dalam mengatur memori kita. Otak membutuhkan bagian otak lain yang disebut hippocampus (sea-horse). Demikianlah Allah Subhana Wa Taala menciptakan manusia yang dilengkapi dengan kemampuan otak yang luar biasa sehingga diberi beban untuk menjadi khalifah di dunia ini. Mari kita menyimak seperti yang terdapat dalam al-Quran.

“ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang benar!”. (QS. Al Baqarah: 31)2

“ Allah berfirman “Hai Adam beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu…..” (QS. Al-Baqarah: 33)2

Salah satu teori yang menarik kita kaji adalah teori Triune Brain yang dikemukan oleh Paul D MacLean, salah seorang pakar neurosains. Secara struktural, tata letak dan fungsionalnya, sebenarnya otak manusia terdiri dari tiga otak yaitu otak reptilia, otak mamalia dan otak primata.5 Batang otak (brain stem) terletak pada bagian paling dalam yang dianggap sebagai otak reptilia manusia. Otak ini berperan dalam mengurusi fungsi-fungsi primitive agar bisa survive dalam kehidupan seperti pernapasan, mengatur detak jantung, pusat miksi, kesadaran, dan juga sumber beberapa neurotransmiter dalam tubuh. Disebelah luar batang otak terdapat system limbik atau otak mamalia. Otak ini banyak dikaitkan dengan fungsi homeostasis, olfactiorn, emosi, dan memori (disingkat menjadi HOME). Sedangkan bagian otak paling luar dan juga yang paling berkembang pada manusia adalah cerebrum dan cerebellum atau otak primata. Otak tersebut berfungsi mengatur otak mamalia dan otak reptilia agar dapat berfungsi dengan baik.

Apakah anda pernah mendengar kisah Pineas Gage? Kisah ini membuat orang mengenal fungsi otak paling terdepan yang tepat terletak di belakang dahi. Bagian otak ini dikenal sebagai otak prefrontal (PFc). Otak ini meliputi sekitar 20% dari keseluruhan otak manusia dan masih berkembang hingga usia 20 tahun. Otak prefrontal banyak dikaitkan dengan fungsi eksekutif yaitu fungsi yang sangat penting bagi manusia sebagai seorang khalifah di dunia. Apapun informasi yang masuk ke otak, maka sebelum memutuskan bagaimana respon tubuh kita maka terlebih dahulu dilaporkan ke otak prefrontal. Otak prefrontal pada hewan mempunyai porsi yang sangat kecil dan bervariasi, tergantung kompleksitas otak perilaku hewan tersebut. Mungkin inilah bagian otak yang paling bertanggung jawab terhadap perilaku manusia di dunia. 6

Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (QS. Al-Alaq:15)

(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.(QS. Al-Alaq: 16)

Kisah Ashabul Kahfi dan Nabi Musa AS

Mari kita mengkaji kisah ashabul kahfi dan Nabi Musa AS sebagaimana yang terdapat pada surah Al Kahfi. Banyak yang dapat kita bisa kaji dari kisah tersebut dari aspek neurosains.

“Maka kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama beberapa tahun”. (QS.Al Kahfi: 11)

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita miliki sekarang masih sulit untuk menjelaskan ayat tersebut. Hal yang dapat kita pahami dari ilmu embriologi adalah pendengaran mulai diaktifkan saat masih dalam kandungan, berbeda dengan penglihatan dan hati. Selain itu, satu-satunya panca indera yang tetap aktif meskipun kita dalam kondisi tidur adalah pendengaran. Sehingga kita bisa memasukkan sugesti saat tertidur (hypnosleep).

“Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri……”. (QS.Al Kahfi: 17)

 “…kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri…….” (QS.Al Kahfi: 18)

Pasien strok yang sementara dalam perawatan atau pun penderita yang harus berbaring lama di rumah sakit, untuk menghindari luka pada bagian punggung dan bokong (luka decubitus), maka pasien tersebut dianjurkan untuk berbaring ke kanan, terlentang dan berbaring ke kiri, secara bergantian dalam jangka waktu yang sama. Bisa kita bayangkan jika ada seseorang berbaring selama 309 tahun, berada dalam posisi yang sama, maka bagaimana luka decubitus yang bisa terjadi. Selain itu pergantian udara atau sistem ventilasi suatu ruangan harus terjamin termasuk cahaya matahari yang cukup.

“…mereka menjawab “kita berada (disini) sehari atau setengah hari “ ….(QS.Al Kahfi: 19)

“Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun ” (QS.Al Kahfi: 25)

Hal yang menarik adalah bagaimana seseorang yang tertidur 309 tahun, merasa tertidur sehari atau setengah hari? Jika kita memahami ayat tersebut dari ilmu hipnosis, pengalaman tersebut dikenal sebagai time distortion. Suatu fenomena yang biasa dialami oleh orang yang dihipnosis atau trance phenomena. Kejadian tersebut bisa juga kita alami, saat kita membaca buku favorit atau menonton film kesukaan kita di bioskop. Waktu berjalan begitu cepat tanpa terasa. Dalam ilmu relativitas Einstein, fenomena itu dikenal sebagai contraction of time. Itu terjadi saat seseorang melakukan perjalanan dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.

Memang fenomena tidur bukan perkara biasa, tidur bukan hanya untuk mengistirahatkan badan tapi juga terjadi proses integrasi dan konsolidasi memori. Sampai sekarang, para pakar neurosains masih meneliti tentang fenomena tidur.

Pertanyaan lain yang dapat muncul adalah bagaimana mereka bisa bertahan hidup selama 309 tahun tanpa harus makan dan minum. Ternyata ada beberapa hewan bisa tertidur dalam jangka waktu yang lama diantaranya yaitu katak yang dapat tidur selama 16 bulan pada saat masa kritis. Tubuh mereka berada dalam kondisi hibernasi. Saat masa hibernasi, metabolisme tubuh diperlambat, sehingga terjadi penghematan energi yang luar biasa.

“Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba kami, yang telah kami berikan rahmat kepadanya dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi kami (QS.Al Kahfi: 65)

Jika kita memahami “ilmu ladunni” sebagai ilmu yang didapat tanpa melalui suatu proses belajar, maka teori “a genetic memory- factory installed software” dapat membantu menjelaskannya. Di dalam buku Darold A Treffert, chapter 4 „How do we know things we never learned?“, kita dapat menemukan kisah Leslie Lemke, seorang penderita tuna netra, yang mampu mengetahui nada-nada musik, tanpa pernah belajar musik dalam hidupnya. Contoh yang lain yaitu Alonzo Clemons, seorang pemahat ulung, yang dapat membuat patung hewan 3D tanpa pernah belajar seni sebelumnya, yang biasanya keterampilan tersebut diperoleh setelah latihan dan belajar bertahun-tahun.7

Demikian juga dengan proses pembelajaran Nabi Musa AS kepada seorang hamba yang telah diajarkan ilmu ladunni. Dalam ilmu psikologi, kemampuan hamba tersebut dikenal sebagai extra-sensory perception (ESP) atau indera ke-enam, seperti telepati, clairvoyance, precognisi, telekinesis dan astral proyection. Prof. Makoto Shichida, penemu Shichida Method, berpendapat bahwa kemampuan tersebut merupakan kapasitas dari bagian otak yang disebut ‘interbrain’ yang hanya bisa diakses melalui otak kanan kita. Hal tersebut hanya bisa terjadi jika seseorang mampu menurunkan gelombang otaknya ke dalam kondisi alpha state.8

“Wahai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya semua ini benar-benar satu anugerah yang nyata.” (An-Naml: 15-16)

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”(An-Naml: 18)

Maka Sulaimanpun tersenyum dan tertawa mendengar perkataannya, lalu berdo’a: “Ya Tuhanku! ilhamilah aku agar selalu mensyukuri nikmat yang Engkau karuniakan kepadaku dan kepada orang tuaku, dan agar aku mengerjakan amal kebajikan yang Engkau ridhai, serta masukanlah aku dengan rahmat-mu ke dalam jajaran para hamba-Mu yang salih”. (An-Naml: 19)

Menurut ayat tersebut, Nabi Sulaiman AS diberikan kemampuan untuk bisa memahami bahasa hewan, pertanyaan yang menarik adalah bahasa apa yang mereka pergunakan?. Ternyata di dunia ini, terdapat beberapa orang yang bisa memahami bahasa binatang, mereka itu dikenal sebagai “Animal Communicator“, diantaranya yaitu Penelope Smith dan Joan Ranquet. Jika anda tertarik berkomunikasi dengan hewan, anda bisa membaca buku “The Secret of Animal Mind”, karangan Ruby Guo dan Angelika Kwee.9

Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”(An-Naml: 38)

Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (An-Naml: 39) 

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI-Kitab “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya), dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An-Naml: 40)

Apakah anda pernah mendengar tentang “teleportation “? suatu benda dapat dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain. Mungkin kita pernah menonton film Star Trek, seseorang masuk ke dalam suatu ruangan khusus berbentuk kapsul, setelah itu kita akan dapat berpindah ke tempat lain, tapi itu hanya fiction-science. Tapi boleh jadi saat ini sudah bisa menjadi kenyataan, meskipun hanya baru bisa dilakukan pada sebuah partikel proton, berdasarkan laporan BBC News “ Teleportation: photon particles today, human tomorrow?”10

Jantung sebagai otak yang kedua

Andrew Armour, seorang neurocardiologist, menyatakan bahwa terdapat otak kecil di dalam jantung (the heart-brain). Di dalam jantung terdapat sekitar 40.000 neuron yang bekerja secara independen, tidak tergantung terhadap fungsi otak. Jantung dapat belajar, mengingat, memutuskan sesuatu, dan bahkan dapat merasa sehingga seolah-olah jantung itu mempunyai pikirannya tersendiri, tanpa harus menerima informasi dari otak. Hal itu dimungkinkan karena jantung memiliki sistem saraf intrinsik.11

Satu hal yang menarik adalah pengalaman orang yang telah menjalani operasi transplantasi jantung. Beberapa diantaranya melaporkan bahwa mereka merasa mengalami perubahan dalam kebiasaan, kesukaan atau hobby bahkan kepribadian. Sebagaimana yang telah dialami oleh Claire Sylvia, pengalamannya tersebut dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul “A Change of Heart”. 12

Sesuai dengan hukum Biomagnetik dalam fisika, maka setiap aliran listrik akan dapat menghasilkan medan magnet di sekitarnya. Termasuk jantung yang dapat menghasilkan medan magnet 5000 kali lebih kuat dibanding medan magnet yang dihasilkan otak kita. Bahkan dapat dipancarkan sekitar 2-3 meter disekitar tubuh. Sehingga komunikasi antara jantung dan otak tidak hanya terjadi melalui sistem persarafan autonom ataupun neurochemical, tapi juga melalui bidang elektromagnetik.13

Agar tubuh dapat bekerja maksimal, maka dibutuhkan sinkronisasi antara kerja jantung dan otak. Jantung yang koheren, akan membuat otak juga koheren. Inilah yang disebut heart-brain synchronization.14 Kondisi ini akan membuat hidup lebih sehat, fisik dan mental. Dengan melakukan metode “The Quick Coherence Technique“ akan dapat menormalkan tekanan darah systole dan diastole, termasuk denyut jantung, dapat mengatasi stres dan depresi, kecemasan, psikosomatik, memori, dan bahkan anak-anak dengan ADHD. Hal ini berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh HeartMath Institute.13

Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah qalbu (hati) ”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Penutup

Saya teringat doa yang selalu diajarkan oleh guru mengaji saya “Yaa Allah tambahkan ilmuku dan pemahamanku”. Dalam doa tersebut, terkandung dua hal yang penting yaitu ilmu pengetahuan dan pemahaman. Bisa jadi semua orang bisa menguasai ilmu pengetahuan tapi belum tentu bisa paham. Namun jika kita hanya fokus pada ilmu pengetahuan, maka ketahuilah bahwa ilmu yang diberikan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala hanya sedikit. Oleh karena itu, tingkatkanlah pemahaman hingga ke tingkat hikmah. Salah satunya dengan cara berusaha memahami kandungan al-Quran dengan perspektif sains atau pun neurosains. Ketahuilah bahwa barang siapa yang telah diberikan hikmah oleh Allah Subahana Wa Ta’ala, sesungguhnya dia telah mendapatkan karunia yang sangat besar.

Referensi

  1. Avicenna. Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Avicenna. (Accessed: 22nd April 2019)
  2. RI, D. A. Al Quran dan Terjemahan. (CV Diponegoro, 2010).
  3. Neuroscience. Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Neuroscience. (Accessed: 22nd April 2019)
  4. Carmichael, J. The Popular Science Guide To Neuroscience. Available at: https://www.popsci.com/science/article/2013-07/popular-science-guide-neuroscience. (Accessed: 22nd April 2019)
  5. John D.Newman, J. C. H. The Scientific Contributions of Paul D. MacLean. J. Nerv. Ment. Dis. 197, 3–5 (2009).
  6. Miller, E. K., Freedman, D. J. & Wallis, J. D. The prefrontal cortex: Categories, concepts and cognition. Philos. Trans. R. Soc. B Biol. Sci. 357, 1123–1136 (2002).
  7. Darold A.Treffert, Daniel Tammet, P. L. Islands of Genius: The Bountiful Mind of the Autistic, Acquired, and Sudden Savant. (Jessica Kingsley Publisher).
  8. Shichida, M. Right Brain Education in Infancy. (Shichida Educational Institute, 2010).
  9. Guo, R. The Secret of Animal Minds. (Gramedia Pustaka Utama, 2015).
  10. Spender, T. Teleportation: Photon particles today, humans tomorrow? (2017). Available at: https://www.bbc.com/news/science-environment-40594387. (Accessed: 22nd April 2019)
  11. Armour, A. The little brain on the heart. 74, 1–4 (2007).
  12. Sylvia, C. A Change of Heart. (Grand Central Publishing, 1998).
  13. McCraty, R. Science-of-the-Heart-Vol-2. 2, (HeartMath Institute).
  14. Dispenza, J. Becoming Supernatural: How Common People Are Doing the Uncommon. (Hay House Inc, 2019).

 

(Materi ini disampaikan pada acara Seminnar Internasional  “Seminar Kesehatan Islami, Kupas Tuntas Kesehatan ala Rasulullah”  yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Shuffah al-Quran Abdullah Bin Masud di Bandar Lampung, Sabtu, 27 April 2019)

 

Share

Leave comment