Kesehatan Dalam Perspektif Syariat Islam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

KESEHATAN DALAM PERSPEKTIF SYARIAT ISLAM

Oleh: Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur

  1. Mukaddimah

Firman Allah :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (الأعراف [٧]: ٣١

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 31)

Pada pertengahan hingga akhir ayat ini, Allah mengisyaratkan suatu hal yang sangat prinsip dalam kesehatan yaitu pengaturan pola makan dan minum. Ayat ini digunakan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib  untuk menjawab orang Yahudi yang mengatakan kepadanya bahwa dia tidak menemukan satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kesehatan, dengan cerdas Ali bin Abi Thalib menjawab, “Untuk menjelaskan tentang kesehatan secara menyeluruh, Allah, Tuhan kami cukup menjelaskan hanya hanya dalam setengah ayat yaitu, “…Makanlah dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan.” (Q.S. Al-A’raf (7): 52)

Menurut referensi yang lain, dialog ini terjadi bukan antara Khalifah Ali  dengan orang Yahudi tetapi antara seorang seorang tabib dengan seorang ulama di zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan menukilkan hadis yang diriwayatkan Abu Ya’la bahwa Rasulullah ﷺ bersabda.

إِنَّ مِنْ السَّرَفِ أَنْ تَأْكُلَ كُلَّ مَا اشْتَهَيْتَ

“Sesungguhnya termasuk berlebih-lebihan adalah memakan segala makanan yang kau sukai.”

Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa sebagian ulama salaf mengatakan bahwa Allah menghimpun semua kebaikan dalam separuh ayat ini, yaitu Firman-Nya: “Makanlah dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan.”

Sementara itu Imam Bukhari mengatakan, Ibnu Abbas berkata bahwa arti yang dimaksud ialah makanlah sesukamu dan berpakaianlah sesukamu selagi engkau hindari dua perilaku yaitu berlebih-lebihan dan sombong.

Dari uraian di atas membuktikan bahwa Islam adalah agama yang sangat memperhatikan masalah kesehatan karena kini terbukti hampir seluruh penyakit degeneratif bermula akibat makan berlebihan alias pola makan yang buruk.

Maka pada makalah ini kami akan menyampaikan sedikit uraian tentang hubungan Islam dan Kesehatan.

  1. Prinsip Kesehatan Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

Islam sebagai petunjuk bagi semua faset kehidupan sangat menaruh perhatian terhadap prinsip-prinsip umum tentang medis dan higiene.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang membahas masalah medis dan ada pula banyak ucapan Rasulullah ﷺ yang berkenaan dengan kesehatan, penyakit, higiene dan masalah lain sehubungan dengan bidang kedokteran.

Penyakit seperti kusta, radang selaput dada (pleurisia), radang mata (ophthalmia) disebut oleh Rasulullah ﷺ dan dianjurkan pengobatannya dengan beberapa cara seperti dibalut, ditusuk (fashdu), dibekam (hijamah) dan pemakaian madu.

Kumpulan ucapan Rasulullah ﷺ tentang medis ini disusun secara sistematis oleh para ulama lalu dikenal sebagai Thibb an-Nabi (Kedokteran Nabi/Rasul).

Imam Al-Bukhari di awal jilid 4 Kitab Shahihnya telah mengumpulkan sabda-sabda Rasulullah ﷺ tentang penyakit, pengobatannya, orang sakit dan sebagainya.

Terdapat pula buku-buku medis lain yang bersifat reli-gius, terutama karya medis yang berasal dari cicit Rasu-lullah ﷺ dan dianggap Imam ke-6 Syiah, Ja’far Ash-Shadiq.

Karena semua ucapan Rasulullah ﷺ merupakan patokan utama kedua setelah Al-Qur’an bagi kehidupan umat Islam, maka Thibb an-Nabi merupakan buku pertama yang dipelajari umat Islam dalam bidang medis terutama mahasiswa kedokteran sebelum ia memulai tugasnya yaitu menguasai ikhtisar medis yang biasa.

Jadi buku Thibb an-Nabi ini selalu memegang peran penting dalam membentuk kerangka pemikiran calon dokter muslim dalam usaha studi medis sehingga tetap dalam prinsip-prinsip syariat Islam.

  • Tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah Tentang Kesehatan
  1. Al-Qur’an

Selain ayat yang disebutkan pada Mukadimah di atas banyak ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kesehatan, antara lain:

  1. Pemberian ASI Eksklusif

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ … (البقرة [٢]: ٢٣٣

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sem-purna…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 233)

Manfaat yang diperoleh dari pemberian ASI eksklusif berdasarkan penelitian modern di antaranya:

  1. Mencegah diare, pneumonia dan meningitis yang disebabkan gangguan pencernaan yang belum siap mencerna makanan dari luar, seperti susu, pisang, sereal dan sebagainya.
  2. Memberikan sistem imunitas pada bayi sehingga tidak mudah terserang penyakit.
  3. Mengandung zat-zat nutrisi yang penting dan lengkap untuk pertumbuhan bayi seperti karbohidrat, lemak, vitamin, protein, dan mineral.
  4. Membuat ibu lebih sehat karena ASI yang diproduksi dikeluarkan, tidak ditahan.
  5. Meningkatkan hubungan kasih sayang antara ibu dengan anak.

 

  1. Kebersihan Diri dan Lingkungan

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوّٰبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (البقرة [٢]: ٢٢٢

“…Sesungguhnya Allah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Ayat ini merupakan ujung ayat yang melarang melakukan hubungan seks dengan wanita yang sedang haid (menstruasi).

Menurut pakar seksualitas, melakukan hubungan seks saat haid sangat merugikan kesehatan baik wanita maupun pria, di antaranya:

  1. Penyakit Menular Seksual

Ketika sedang haid, leher rahim akan terbuka se-hingga mempermudah masuknya kuman dan bakteri.

Seks saat menstruasi berisiko membuat tertular hepatitis dan HIV.

  1. Infeksi saluran kencing, sperma dan prostat.

Normalnya, dinding vagina akan membengkak (inflamasi) saat menstruasi. Saat terjadi inflamasi, lapisan dinding rahim akan luruh bersama keluarnya darah haid. Darah ini akan berpotensi menjadi media pengembangan bakteri dan kuman yang bisa mengakibatkan infeksi saluran kencing, sperma, prostat pada kaum pria.

  1. Iritasi Kulit

Paparan darah menstruasi menyebabkan iritasi kulit dan peradangan. Kondisi ini bisa meningkat-kan kerentanan terhadap berbagai infeksi. Selain itu darah haid juga bisa mencairkan efek dari pelumas alami dan buatan yang bisa meningkatkan resiko kulit robek dan mempengaruhi resiko penyakit kelamin.

  1. Pengaruh Jiwa bagi Kesehatan

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (ال عمران [٣]: ١٣٤

“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Ali Imran [3]: 134)

Ayat ini merupakan salah satu rangkaian ayat yang menginformasikan akhlaq mulia yang membawa seseorang masuk ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Di antara akhlaq mulia itu adalah kemampuan menahan amarah dan kesediaan memaafkan kesalahan orang lain.

Kedua akhlak mulia ini ternyata memiliki efek yang sangat signifikan terhadap kesehatan.

Hasil penelitian dari University of California tahun 2012 menyebutkan bahwa orang yang dapat menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain memiliki resiko lebih rendah terhadap hipertensi.

Pakar Psikologi di Virginia Commonwealth University, Amerika Serikat, Worthington Junior mempublikasikan hasil penelitiannya pada tahun 2005 di Jurnal Ilmiah Eksplore, tentang hubungan antara memaafkan dan kesehatan yang hasilnya adalah bahwa sikap memaafkan sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Orang yang tidak memaafkan atau terbawa kemarahan dan dendam ditemukan mengalami penurunan fungsi kekebalan tubuh, tekanan darah lebih tinggi, ketegangan otot dan detak jantung.

Sebaliknya sifat memaafkan meningkatkan pemulihan penyakit jantung dan pembuluh darah, mengurangi stress dan hubungan suami istri menjadi lebih baik.

  1. As-Sunnah
  2. Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula obatnya.” (H.R. Al Bukhari)

Pada hadits lain beliau bersabda, “Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penya-kitnya maka dia akan sembuh dengan izin Allah.” (H.R. Muslim)

Dua hadis ini memberikan harapan optimis bagi orang yang sakit bahwa penyakitnya akan sembuh dan me-motivasi orang yang bergerak di bidang kesehatan untuk mengadakan penelitian guna menemukan obat bagi berbagai macam penyakit.

Tetapi obat dan dokter hanyalah sarana kesembuhan, sedang kesembuhan hanya terjadi dengan izin Allah.

  1. Perintah Berobat

Usamah bin Syarik Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku pernah berada di samping Rasulullah , lalu datanglah serombongan Arab dusun. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah , bolehkah kami berobat? Beliau menjawab, “Ya, berobatlah, wahai para hamba Allah. Sebab Allah tidak meletakkan penyakit melainkan meletak-kan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya, “Penyakit apa itu?” Beliau menjawab, “Penyakit tua.” (H.R. Tirmidzi)

Pada hadis lain beliau bersabda, “Berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan yang haram.” Dalam riwayat lain, “Beliau melarang berobat dengan khamr karena dia bukan obat tapi penyakit.” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)

Larangan berobat dengan khamr (alkohol) terbukti sesuai hasil penelitian para pakar kesehatan modern yang menyatakan bahwa khamr (alkohol) memiliki efek negatif bagi tubuh. Alkohol akan menghambat fungsi hati, mempengaruhi hormon kesuburan dan merusak sistem kerja syaraf pusat.

  1. Perintah Menjaga Kebersihan

Rasulullah ﷺ bersabda, “Islam itu agama yang bersih, maka hendaklah kalian menjaga kebersihan karena sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih.” (H.R. Baihaqi)

Seluruh pakar kesehatan menyatakan bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan. Maksudnya bahwa kebersihan itu sumber bagi kesehatan. Bila kita selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan maka tubuh kita akan sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit.

Untuk menjaga kebersihan lingkungan Rasulullah ﷺ berwasiat kepada para sahabat, “Bersihkanlah halaman-halaman kalian, karena sesungguhnya orang Yahudi tidak membersihkan halaman mereka.” (H.R. Thab-rani)

Sedang untuk menjaga kebersihan rumah, Rasulullah ﷺ menganjurkan kaum muslimin untuk melakukan shalat sunnah di rumah.

Dengan ini rumah merupakan masjid yang lain, karena itu rumah harus bersih dan suci agar shalat yang dilakukan sah.

Samurah bin Jundub mengatakan, “Rasulullah meme-rintahkan kepada kami agar menjadikan masjid kami dan memerintahkan kami untuk membersihkannya.” (H.R. Abu Daud)

Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam kebersihan. Kebersihan adalah bagian dari gaya hidup beliau.

Banyak hadis yang menyebutkan beliau adalah tipe manusia yang sangat menyukai kebersihan. Beliau gemar bersiwak (gosok gigi), memakai minyak wangi, bertubuh bersih dan berpakaian rapi, dan selalu menjaga kebersihan tangan (hand hygiene) setelah bangun tidur (H.R. Bukhari).

Kebersihan Rasulullah ﷺ ditiru oleh para sahabat dan generasi muslim sesudahnya sehingga kebersihan menjadi peradaban utama bagi masyarakat Islam di masa kejayaannya.

Orientalis Jerman Sigrid Hunke melakukan studi ban-ding antara peradaban Islam saat itu dengan kondisi bangsa Eropa. Ia menyatakan bahwa Syaikh Ath-Thur-tusyi, ahli fikih dari Andalus saat berkeliling di negara Eropa dikejutkan dengan hal yang membuat bulu kulit berdiri. Hal ini disebabkan dia adalah seorang muslim yang diwajibkan mandi dan berwudhu sebanyak lima kali sehari. Dia berkata, “Selamanya kamu akan melihat mereka itu kotor. Sesungguhnya mereka tidak membersihkan diri mereka dan tidak mandi kecuali satu atau dua kali dalam satu tahun dengan air dingin. Adapun pakaian mereka tidak mereka cuci setelah mereka pakai hingga pakaian itu kumuh dan rusak.”

  1. Rumah Sakit dalam Peradaban Islam

Prof. Dr. Raghib As-Sirjani menyatakan, barangkali sebagian dari sumbangan terbesar umat Islam di bidang kesehatan adalah pendirian rumah sakit. Umat Islam merupakan orang yang pertama kali mendirikan rumah sakit di dunia.

Pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik (86-97 H/705-715 M) dari Dinasti Bani Umayyah untuk pertama kalinya mendirikan Rumah Sakit yang mempunyai dokter dokter spesialis. Di sini pasien-pasien diberi makan dan minum gratis agar tidak berkeliaran di luar.

Sesudah berdiri rumah sakit ini, di berbagai tempat bermunculan balai-balai pengobatan yang disebut Bimaristan (Bahasa Persia, bimar = sakit + stan = tempat).

Ar-Razi (865-925 M), dokter muslim terbesar dan penulis paling produktif, ketika mencari tempat untuk membangun rumah sakit besar di Baghdad, diriwayatkan dia menggantungkan sekerat daging di tempat yang berbeda untuk melihat tempat yang paling sedikit menyebabkan pembusukan.

Ada dua macam rumah sakit yang dikenal dalam perada-ban Islam yaitu Rumah Sakit Tetap dan Rumah Sakit Tidak Tetap.

Rumah Sakit Tetap adalah rumah sakit yang didirikan di kota. Jarang sekali sebuah kota Islam, walaupun kecil tanpa anda rumah sakit di dalamnya.

Adapun Rumah Sakit Tidak Tetap sebenarnya telah ada sejak masa Rasulullah ﷺ yaitu sewaktu terjadi Perang Khandaq.

Pada waktu itu Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk merawat prajurit yang terluka. Para khalifah dan raja-raja di kemudian hari mengembangkan rumah sakit jenis ini dengan menambah perlengkapan berupa obat-obatan, makanan, minuman, tenaga medis berikut apotiknya dengan sistem operasi berpindah-pindah dari kampung ke kampung yang di sana belum ada Rumah Sakit Tetap yang beroperasi.

Rumah Sakit Tetap yang tersebar di kota-kota besar mencapai kualitas yang sangat tinggi. Rumah sakit ini dibagi menjadi dua bagian yang terpisah satu sama lain. Satu bagian khusus pasien pria dan satunya lagi khusus pasien wanita. Di setiap bagian memiliki unit-unit spesialis. Ada bagian spesialis penyakit dalam, spesialis bedah dan operasi, spesialis penyakit kulit, spesialis penyakit mata dan sebagainya.

Masing-masing unit spesialis dibagi menjadi sub unit menurut klasifikasi penyakit. Masing-masing sub unit dipimpin oleh seorang dokter Kepala Sub Unit. Seluruh dokter bekerja bergantian sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, di mana mereka harus hadir di ruang perawatan pasien. Setiap rumah sakit mempunyai sejumlah petugas pria dan wanita, mempunyai perawat dan para asisten yang digaji tetap.

Di setiap rumah sakit mempunyai apotik yang menyediakan alat-alat bedah dan perlengkapan yang baik mutunya.

(Gambar, halaman 49, The Arab Haritage of Western Civili-zation, Rom Landau) (Batu Sendi Peradaban Barat jang diletakkan oleh Sardjana-Sardjana Islam, terdjemahan H. M. Bachrun, diberi tjatatan dan peta oleh Soedewo P.K., P.T. Penerbit & Balai Buku Ichtiar, Djakarta)

Seluruh biaya pengobatan di rumah sakit ini gratis untuk semua orang. Pasien yang datang diperiksa di ruang luar. Bagi yang menderita penyakit ringan langsung diberi resep obat dan dapat diambil di apotik rumah sakit. Pasien yang memerlukan perawatan khusus atau opname, dilayani, namanya dicatat kemudian disuruh mengganti pakaian dengan pakaian rumah sakit.

Selanjutnya dia diberi zal (ruang) yang telah ditentukan untuk pasien sejenis. Di situlah dia dirawat dan diobati oleh dokter-dokter yang bertugas.

Makanan diberikan sesuai dengan kebutuhan kesehatan dengan ukuran tertentu. Bila ternyata dapat menghabiskannya, berarti ia hampir pulih. Maka dia dimasukkan di ruang khusus untuk orang yang sudah hampir sembuh hingga benar-benar pulih. Kemudian dia diberi pakaian baru serta sejumlah uang bantuan sebelum dia dapat bekerja mencari nafkah kembali.

Rumah sakit-rumah sakit tersebut bukan hanya sebagai tempat pengobatan tetapi juga sebagai tempat pengajaran bagi mahasiswa kedokteran dan riset penggunaan obat-obatan untuk penyembuhan.

Philip K. Hitti menyatakan bahwa umat Islamlah yang per-tama kali membangun apotik, mendirikan sekolah farmasi dan menghasilkan buku daftar obat-obatan.

Untuk menjadi ahli obat-obatan seseorang harus menjalani semacam tes, begitu juga dokter yang bekerja di rumah sakit harus memiliki ijazah (sertifikat) setelah melalui berbagai macam tes.

Untuk yang ingin berpraktek sendiri, dokter diwajibkan menempuh ujian di hadapan majelis dokter-dokter ahli dengan mengajukan tesis di bidang tertentu untuk memperoleh izin praktik.

Tesis yang diajukan boleh berupa karangan asli, atau komentar karangan seorang ahli. Setelah diuji sekitar tesis yang diajukan, bila berhasil lulus barulah diizinkan berpraktek.

  1. Orang Sakit Dalam Pandangan Islam

Syariat Islam memandang orang yang sakit sebagai manusia yang sedang dalam kondisi krisis. Karena itu, dia memerlukan orang yang mendampinginya, belas kasih terhadapnya, menyemangatinya, menenangkan ketakutannya dan meringankan penderitaan tubuh dan batinnya.

Rasulullah ﷺ memerintahkan menjenguk orang sakit di rumahnya atau di rumah sakit sebagai hak bagi orang sakit dan kewajiban atas kaum muslimin.

Beliau bersabda, “Hak orang Islam atas orang Islam yang lain ada enam”, di antaranya beliau menyebutkan, “Apabila ia sakit, maka jenguklah.” (H.R. Bukhari Muslim)

Beliau memberi kabar gembira berupa surga kepada orang yang menjenguk orang sakit, dengan sabdanya, “Barangsiapa menjenguk orang sakit, penyeru dari langit berseru kepadanya, “Engkau baik, memiliki perilaku yang baik dan akan menempati suatu tempat di surga.” (H.R. Tirmidzi)

Beliau memerintahkan agar ketika kita menjenguk orang sakit, kita menyebut hal-hal yang baik di hadapannya, menyemangati jiwanya, membuat harapan panjang umur. (H.R. Tirmidzi)

Perhatian terhadap orang sakit ini tidak hanya terbatas pada orang Islam tetapi berlaku umum, walaupun dia bu-kan orang Islam. Rasulullah ﷺ pernah menjenguk pemuda Yahudi yang sakit. (H.R. Bukhari)

Tuntunan Islam terhadap penyantunan orang sakit adalah berangkat dari firman Allah:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا (الإسراء [١٧]: ٧٠)

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Q.S. Al-Isra [17]: 70)

Jadi berdasarkan kepada prinsip pemuliaan kepada manusia inilah syariat Islam mengharuskan umatnya untuk memperhatikan dan mengobati orang sakit.

Maka dalam pelayanan medis, tidak boleh ada diskriminasi antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, pria dan wanita, muslim dan non-muslim, suku, warna kulit, kebangsaan dan sebagainya. Mereka harus diperlakukan sama dan pelayanan yang maksimal.

Di antara akhlaq (etika) yang diajarkan oleh Islam terhadap penyantunan orang yang sakit adalah menjaga kehormatannya, menjaga rasa malunya, dan menjaga langkah-langkah pemeriksaan dan pengobatan tanpa merusak privasinya. Oleh karena itu syariat Islam tidak membolehkan membuka aurat orang sakit kecuali dalam keadaan darurat dan dengan kadar yang diperlukan untuk pemeriksaan dan operasi.

Begitu juga orang lain tidak boleh ikut menyaksikan pemeriksaan pasien khususnya lawan jenis. Dokter juga tidak boleh berduaan dengan pasien kecuali dengan ada-nya mahramnya atau perempuan lain, misalnya perawat. Rumah sakit Islam di masa keemasannya juga memisahkan antara pasien laki-laki dan pasien perempuan di ruang khusus untuk mereka.

Untuk menjaga hak orang sakit Islam membolehkan dok-ter laki-laki untuk memeriksa pasien perempuan dan se-baliknya apabila tidak ditemukan dokter yang sesama jenis dan sepadan dalam kemampuan dalam menangani sakit yang diderita oleh pasien.

Hal ini berdasar hadis dari Ruba’i binti Muawwad bin Afra’, dia berkata, “Kami (kaum wanita) berperang bersama Rasulullah ﷺ dengan tugas memberi minum pasukan, melayani mereka dan merawat mereka ke Madinah.” Imam Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Kitab Shahihnya di bawah bab:

هَلْ يُدَاوِي الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ وَالْمَرْأَةُ الرَّجُلَ

“Apakah laki-laki boleh mengobati wanita dan wanita mengobati laki-laki.”

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, menjelaskan hadis di atas, bahwa diperbolehkan pengobatan dari lawan jenis dalam keadaan darurat dengan melakukan tindakan terbatas yang diperlukan untuk pengobatan.

Syariat Islam juga membolehkan orang Islam mencari pengobatan dari dokter non muslim dan dokter muslim diperbolehkan mengobati pasien non muslim bahkan musuh sekalipun seperti yang dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi terhadap Pasukan Salib Richard The Lion Hart. Dikisahkan bahwa suatu hari Richard sakit keras. Mendengar kabar itu Shalahuddin mengirimkan dokter terbaik-nya untuk mengobati Richard.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّابِ

DAFTAR PUSTAKA

  1. Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfadz Al-Qur’an Al-Karim, Dar Al-Ma’arifah, Beirut, Lebanon.
  2. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, Dar Al-Ghad Al-Hadid, Kairo, Mesir.
  3. Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon.
  4. Muhamad Ali Ash-Shabuni, Rawai Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam min Al-Qur’an, Makkah Al-Mukarramah.
  5. Abu Abdullah Muhamad bin Ismail, Shahih Al-Bukhari, Maktabah Al-Tsaqafiyah, Beirut.
  6. Abu Isa At-Tirmidzi, Al-Jami’ Al-Shahih, Dar Al-Fikr, Bei-rut, Lebanon.
  7. Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari, Al-Maktabah Salafiyah.
  8. Sayyed Hosein Nasr, Sains dan Peradaban Dalam Islam, Terjemah J. Mahyuddin, Pustaka, Bandung, Cetakan II, 1997 M.
  9. Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, Terjemah Sonif dkk, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Cetakan I, 2011.
  10. Musthafa As-Sibai, Kebangkitan Kebudayaan Islam, Terje-mah Nabhan Husein, Media Dakwah, Jakarta, Cetakan I, 1407/1987.
  11. Rom Landau, Batu Sendi Peradaban Barat yang diletakkan Sarjana-Sarjana Islam, Terjemah H. M. Bachrun, Ichtiar, Jakarta.
  12. Philip K. Hitti, History of The Arab, Terjemah R. Cecep Luk-man Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Serambi, Jakarta, Ceta-kan I, 1429 H/2000 M.
  13. https://www.google.com

 

(Materi ini disampaikan pada acara Seminnar Internasional  “Seminar Kesehatan Islami, Kupas Tuntas Kesehatan ala Rasulullah”  yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Shuffah al-Quran Abdullah Bin Masud di Bandar Lampung, Sabtu, 27 April 2019)

Share

Comment on "Kesehatan Dalam Perspektif Syariat Islam"

  1. bachtiar rivai

    terima kasih informasinya atas artikel kesehatan dalam pandangan ajaran islam. membuat kami terispirasi terhadap zaman nabi terdahulu

Leave comment