Membangun Sumber Daya Insani Berakhlak Al-Quran

Oleh: Lili Sholehuddin, Dosen Sekolah Tinggi Shuffah Al-Quran Abdullah Bin Mas’ud (ST SQABM)

Bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami ujian berat dengan terjadinya berbagai benturan dan hantaman dahsyat arus globalisasi yang berimplikasi pada pergeseran budaya lokal yang penuh kesantunan, keramahan, kearifan nyaris hilang dan gaya hidup (life stille) kesederhanaan berubah kepada hidup mewah, konsumtif dan hedonisme. Era globalisasi sangat besar pengaruhnya dalam menentukan corak, warna dan bentuk satu komunitas masyarakat bangsa di dunia. Ia dapat masuk pada aspek-aspek vital kehidupan manusia, mulai dari hal-hal yang bersifat individu (mikro) sampai pada tatanan berskala makro (tata kelola suatu negara). Memang, globalisasi menjanjikan berbagai kemudahan, percepatan, produktivitas. Namun, pada sisi lain, menjadi pisau bermata dua bila tidak diimbangi dasar-dasar moral dan spiritual. Faktanya, globalisasi yang terlepas dari kendali moral dan spiritual telah memunculkan beragam krisis multidimensional yang sangat mengerikan. Kriminalitas, narkoba, korupsi, abuse of power, terorisme, intoleran, persekusi terjadi di mana-mana.

Kondisi moral bangsa yang sedang mengalami carut-marut ini maka kehadiran pendidikan yang menumbuhsuburkan kecerdasan hati (emosional dan spiritual) menjadi sebuah keniscayaan. Pendidikan yang lebih diarahkan pada optimalisasi kecerdasan kognitif (intelektual) serba rasional dan disiapkan hanya untuk memenuhi tuntunan dunia kerja semata, telah terbukti mengalami kebangkrutan total di segala bidang. Kurikulum pendidikan yang didasarkan pada kebutuhan fundamental berdasar al-Quran, diyakini akan menghasilkan lulusan menakjubkan dan mencengangkan dunia; menjadi ilmuwan, pemimpin, hakim dan lain-lain sebagaimana yang mampu mengatasi dan menjawab tantangan zaman yang mengglobal saat ini. Sebuah ilustrasi, keunggulan kurikulum berbasis al-Quran telah terbukti sukses gilang gemilang, sebagaimana difragmentasikan sistem pendidikan Rasulullah 15 abad silam. Tulisan ini mencoba memberikan sumbang saran dalam upaya memperbaiki akhlak atau moral anak bangsa dalam menghadapi gejolak dan pengaruh era global melalui pendekatan al-Quran yang telah terbukti dengan meyakinkan dapat menyelesaikan berbagai krisis multidimensional.

Tantangan Masyarakat Bangsa di Era Global

Pendidikan moral yang terlampau rasional dan kognitif tidaklah efektif. Moralitas lebih bersifat gaya kepribadian dari pada gaya berpikir, yang menuntut hidup bersama dalam keharmonisan dengan sesama dan bertujuan untuk membantu pembelajar agar memedulikan, mengindahkan, dan memperhatikan perasaan serta pribadi orang lain sebagai perwujudan akhlak mulia. Akhlak sebagai salah satu orientasi pendidikan yang tidak bisa ditawar-tawar tentunya harus dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan menyentuh berbagai aspek, tidak sporadis dan tidak parsial sehingga outcome yang dihasilkan benar-benar dapat eksis pada posisinya, dan mampu merespon berbagai persaingan ketat dan tantangan zaman yang mengglobal. Di samping itu, ia mampu mengambil manfaat bagi kehidupan kemanusiaan secara individu maupun sosial terhadap peluang-peluang era globalisasi yang tersedia dan terbuka lebar dengan berbagai konsekuensi yang mengiringinya.

Era globalisasi yang ditandai dengan adanya perubahan di segala bidang; politik, ekonomi, sains, teknologi, informasi, sosial, budaya, dan lain-lain telah membawa pengaruh perubahan besar bagi kehidupan masyarakat dunia. Kemajuan di bidang teknologi komunikasi, informasi dan transportasi misalnya, telah membuat segala sesuatu yang terjadi di negeri yang jauh bahkan di benua yang lain bisa diketahui, dan tempat tertentu bisa dicapai dalam waktu yang amat singkat, dunia seperti sebuah kampung yang kecil (global village). Munculnya era globalisasi ini, nampaknya telah membawa perubahan positif pada perilaku sebagian komunitas manusia, seperti budaya disiplin, kebersihan, tanggung jawab, egalitarianisme dan kerja keras. Bahkan berbagai kemudahan lainnya, yang sangat berhubungan erat dengan hajat hidup komunitas manusia dapat diakses dengan mudah, cepat, dan murah, seperti; memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan alam serta sosial di berbagai belahan bumi; melakukan komunikasi yang semakin canggih, melakukan perjalanan atau bepergian (mobilitas tinggi); menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran pada setiap individu; memacu diri untuk meningkatkan kualitas dalam mengantisipasi dan menghadapi perkembangan ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kemudahan memenuhi kebutuhan hidup yang semakin kompleks dan tidak terbatas, mengintegrasikan internasional individu-individu dengan jaringan-jaringan informasi serta institusi ekonomi, sosial dan politik yang terjadi secara cepat dan mendalam pada takaran yang belum pernah dialami selama sejarah sebelumnya, yang kesemuanya itu merupakan peluang dan tantangan yang memerlukan kesiapan individu, elemen masyarakat, bangsa dan negara dalam mengantisipasi, menerima dan memanfaatkannya.

Namun di sisi lain, era globalisasi telah penciptaan kultur budaya yang homogen yang mengarah pada penyeragaman selera, konsumsi, gaya hidup, nilai, identitas dan kepentingan individu serta mengintroduksi dimensi budaya modernitas, seperti nilai-nilai demokrasi, pluralisme, toleransi dan hak-hak asasi manusia, yang memang aspek-aspek tersebut tidak sesuai dengan hati nurani individu manusia yang menghendaki adanya kebersaman dalam keragaman corak, warna dan perilaku sebagai sunatullah adanya yang telah mendapat perhatian secara intens syariat Islam. Implikasi globalisasi telah melahirkan sikap dan sifat manusia berperilaku keras, cepat, akseleratif dan budaya instan. Manusia tidak ubahnya seperti robot, selalu bersaing ketat, hidup bagaikan roda berputar cepat, meninggalkan norma-norma universal dan semakin memudarnya penghargaan terhadap nilai-nilai spiritual, nilai-nilai transendental, nilai-nilai budi pekerti, dan nilai-nilai agama, yang berimplikasi pada melemah dan melonggarnya bentuk-bentuk identitas kultural suatu bangsa, termasuk pendidikan.

Munculnya kecanggihan sains dan teknologi sebagai ciri khas globalisasi, telah mengakibatkan terjadinya pergeseran substansi pendidikan ke pengajaran. Makna pendidikan yang sarat dengan nilai-nilai akhlak bergeser pada pengajaran sebagai transfer pengetahuan, dengan tujuan agar mampu menjalankan teknologi, demi mencapai tujuan materiil semata. Konsekuensinya, budaya hedonisme, konsumerisme, kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya, degradasi moral dan sederet perilaku tak terpuji terjadi di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia yang kita cintai ini dan secara perlahan tapi pasti, dampak globalisasi ini telah meruntuhkan nilai budaya lokal ke-timur-an. Paling mengkhawatirkan lagi, hanyutnya akhlak (spiritualitas) pada pribadi masyarakat yang menimbulkan efek-efek sosial dan berbagai macam perilaku buruk dalam kehidupan bermasyarakat, seperti: meningkatnya pemberontakan remaja, dekadensi etika atau sopan santun pelajar, berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan figur-figur yang berwenang, kekejaman dan kebengisan antar kelompok teman sebaya, munculnya kejahatan dan sikap fanatik yang penuh kebencian, timbulnya gelombang perilaku yang merusak diri sendiri; perilaku seksual, penyalahgunaan miras atau narkoba dan perilaku bunuh diri, mengabaikan pengetahuan moral sebagai dasar hidup, kecenderungan untuk memeras, tidak mengindahkan peraturan, melakukan perilaku yang membahayakan terhadap diri sendiri atau orang lain tanpa berpikir terlebih dahulu bahwa hal itu salah.

Budaya menyontek, membolos, tidak mengerjakan PR, merosotnya etika kerja, meningkatnya sifat mementingkan diri sendiri (egois) dan kurangnya bertanggung jawab sebagai warga bangsa, bahkan sepasang remaja tega membuang bayinya akibat hubungan gelap yang mereka lakukan, dan tentu masih banyak lagi sederet tragedi kemanusiaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat modern, termasuk di bumi pertiwi, Indonesia yang kita cintai. Pada hakikatnya, era globalisasi hanya memberikan opsi untuk diambil sebagai pilihan. Pilihan itu amat bergantung pada kapasitas daya nalar, dan daya rasa individu masyarakat bangsa dalam menyikapi dan memahami pengaruh globalisasi itu. Secara faktual, bila disimak lebih seksama tentang fakta-fakta yang terjadi akibat era globalisasi di atas, menunjukkan bahwa faktor manusia menjadi sangat urgen. Dari sekian aspek positif era globalisasi yang ditawarkan, ternyata hanya segelintir orang saja yang mampu beradaptasi dan merespon untuk mengambil manfaatnya. Pada umumnya, justru anak bangsa terjebak dan tenggelam dalam buaian hedonisme, terpengaruh iming-iming materialistik yang menggiurkan, tergilas budaya barat yang sekuler yang mengumbar kebebasan dan kenikmatan semu. Ini artinya bahwa kesiapan anak bangsa menghadapi perubahan era globalisasi ini, secara mental spiritual memang belum siap, masih perlu waktu yang cukup untuk bisa beradaptasi. Untuk itulah, diperlukan adanya upaya-upaya konkret, langkah-langkah nyata dan tindakan strategis prospektif yang dilaksanakan oleh para pemangku jabatan, kelompok masyarakat dan semua elemen bangsa untuk melakukan pembinaan mental spiritual bagi generasi tunas-tunas bangsa yang lebih intensif dan efektif agar anak bangsa memiliki kesiapan prima secara, akidah, ilmu, mental dan profesi dalam menghadapi percaturan global dan persaingan ketat di tengah-tengah antar masyarakat dunia.

Peran Akhlak dalam Kehidupan Sosial

Kedudukan akhlak menempati posisi penting bagi setiap individu maupun masyarakat dan bangsa. Jika akhlak baik maka sejahteralah lahir batinnya, jika rusak maka rusaklah pula lahir dan batinnya. Bahkan apa saja yang lahir dari manusia itu sendiri, baik berupa sikap, perkataan atau perbuatan adalah lahir dari pembawaan dan sifat jiwanya. Dilihat dari segi sifatnya, akhlak bersifat universal. Ke-universal-an itu menunjukkan luasnya cakupan, meliputi segenap aspek kehidupan secara pribadi maupun masyarakat, dan meliputi semua interaksi manusia dengan semua aspek kehidupan. Di dalam ajaran Islam, agama itu adalah akhlak. Rasulullah SAW mengatakan: agama itu adalah nasihat, nasihat tentang yang benar dan yang salah. Urgensi kehadiran akhlak dalam beragam aspek kehidupan makhluk manusia, dapat diakses melalui nas-nas al-Quran dan al-Hadits yang selalu mengaitkannya dengan masalah aqidah/iman dalam bentuk kata khuluq yang berbentuk jamak yaitu pada al-Qalam 68: 4.

(وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ.(سورة القلم/4:68

Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung”. (QS al-Qalam/68: 4).

Ayat ini dinilai sebagai konsiderasi pengangkatan Rasulullah SAW menjadi Rasul. Ini pula satu pujian yang paling tinggi yang tidak ada taranya, diberikan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad SAW. Walaupun secara fisik dan nalurinya sama dengan manusia biasa, tetapi dalam kepribadian dan mentalnya bukanlah seperti manusia pada umumnya, karena Rasulullah SAW diutus untuk menjadi pemandu dan teladan bagi umat manusia seluruhnya. Rasulullah SAW. bersabda: “orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya.” Dan, “tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mengasihi saudaranya sebagaimana mengasihi dirinya sendiri.” Makna akhlak yang diungkapkan al-Quran dalam bentuknya yang jama’, yaitu Khuluq menunjukkan bahwa akhlak bersifat universal melingkupi semua aspek yang dimiliki makhluk dan berkembang di atas pondasi iman sebagai intisari tauhid kepada Allah SWT. yang terlahir dari padanya insan saleh dan berakhlak. Karena itu, pengajaran akhlak akan berkesan dan berlaku apabila dikaitkan dengan iman kepada Allah SWT. Iman yang kuat akan mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedangkan iman yang lemah akan melahirkan akhlak yang buruk dan keji. Hal ini selaras dengan al-Quran yang menjelaskan bahwa masyarakat bisa menjadi baik jika akhlak mereka bagus, dan bisa menjadi hancur jika perilaku mereka buruk (surat Ibrahim 14: 24-27).

Realitas sejarah perjalanan peradaban umat manusia membuktikan bahwa akhlak berperan membentuk masyarakat dan berfungsi mengarahkan model kepemimpinan mereka. Dalam al-Quran Allah SWT berfirman, berikut:

(وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيرًا.(سورة :الاسراء/17: 16

“Dan jika Kami hendak membinasakan satu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan ke-durhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu se-hancur-hancurnya.” (surat al-Isrá 17: 16). Secara tegas al-Quran menyatakan, bumi dan seisinya hanya akan diwariskan kepada hamba Allah yang berakhlak mulia untuk memakmurkannya.

(وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِىَ الصّٰلِحُونَ.(سورة الأنبياء/21 :105

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh al-Mahfuẓ, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. al-Anbiya 21:105).

Agama merupakan dasar tumbuh dan berkembangnya akhlak. Tanpa ikatan agama, akhlak tidak akan kokoh dan kekal bahkan akan membawa pada kegagalan. Orang yang berpikiran cerdas akan lebih terarah untuk mengamalkan nilai akhlak mulia dan menjauhkan diri dari perbuatan buruk, serta berusaha terus-menerus untuk memahami substansi hidupnya agar berkesesuaian dengan titah dan petunjuk-Nya dan terbebas dari perbuatan munkarat yang dapat menjauhkan dirinya dari ridla, ampunan dan rahmat Allah sesuai firman Allah:

(وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنَ.(سورة الذاريات/51 :56

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk menyembah-Ku.” (QS. al-Dhariyat 51:56).

Terdapat pelbagai paham menolak peranan agama dalam pembinaan akhlak mulia ini. Paham sekularisme, telah meruntuhkan akhlak banyak manusia yang berakibat pada pelbagai gejala sosial muncul di luar dugaan rasional. Sekularisme merupakan produk kebudayaan Barat yang menular ke alam pikiran dan budaya kebanyakan masyarakat Islam yang  bertujuan untuk memisahkan akhlak dari agama. Perlunya upaya menutup rapat celah masuknya paham sekularisme ini, maka peran pendidikan menjadi sangat penting dan strategis. Pendidikan melalui peran pendidik merupakan agen moral dan model bagi para peserta didik dalam melakukan internalisasi nilai-nilai akhlak mulia dan sekaligus sebagai murabbi dan muaddib di samping mu’aḻim dan mudarris (surat al-Muminun 33:21), yang dapat menjadi katalisator infiltrasi pengaruh sekularisme. Selain itu, faktor rohani dan iman menjadi syarat penting untuk selalu ditanamkan pada peserta didik sesuai ketentuan dan petunjuk Islam.

Implikasi akhlak mulia sebagai hasil dari sebuah pendidikan, akan terlihat pada sikap masyarakat yang toleran, menghargai, menghormati, mengetahui hak dan kewajiban masing-masing, tolong menolong yang diekspresikan dalam perilaku bermasyarakat yang dinamis, harmonis, penuh kehangatan. Akhlak tidak saja menciptakan suasana kebersamaan antar individu, tetapi juga menjaga konsistensi antara cara dan tujuan dengan baik dan benar sehingga tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip al-Akhlaq al-Karimah, karena Islam tidak mengizinkan dalam mencapai tujuan, walaupun baik, dengan cara-cara yang kotor dan bertentangan dengan syariat. Inilah sesungguhnya substansi tujuan akhir dari usaha menumbuh kembangkan akhlak mulia dalam realita kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Urgensi Membangun Sumberdaya Insani Unggulan

Lembaga pendidikan sangat dipengaruhi oleh hampir seluruh disiplin ilmu pengetahuan, perkembangan masyarakat, filsafat dan budaya, nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur bangsa lainnya, yang diharapkan dapat memproduksi lulusan yang mampu 3 merespons berbagai persoalan bangsa, dapat mengembangkan potensi dasar dan kepribadian tunas bangsa sesuai petunjuk al-Quran sebagai perwujudan insan berakhlak mulia yang mampu meredam tantangan era global dalam pelbagai bentuk, sifat, corak dan skala persoalan yang dihadapinya. Akhlak sebagai bagian tak terpisahkan dari aqidah, merupakan sebuah sistem keyakinan yang mendasari seluruh aktivitas manusia yang timbul daripadanya perbuatan-perbuatan dengan mudah, dalam kehidupannya, yang tercermin dari prilaku dalam kesehariannya baik berhubungan dengan Allah Ta‟ala, dengan manusia atau makhluk lainnya, sebagai satu kepribadian yang tertanam kuat dalam jiwa. Jadi, aspek akhlak adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan acceptable dan tanpa pemikiran (unthought), tanpa paksaan, tanpa ada unsur sandiwara, yang dilakukan li ’ila li kalimah Allah, merupakan kerangka dasar ajaran Islam yang memiliki kedudukan sangat penting, di samping aqidah. Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam mengisyaratkan bahwa kehadirannya di muka bumi ini membawa misi pokok, yaitu: menyempurnakan akhlak manusia yang mulia.

Pendekatan Islam dalam menumbuh kembangkan nilai-nilai akhlak dapat dilihat melalui nas-nas al-Quran dan al-hadis yang banyak mengaitkan pembentukan akhlak dengan aqidah atau iman, karena akhlak merupakan intisari keimanan/tauhid. Kuat atau lemahnya iman seseorang dapat diukur dan diketahui dari perilaku akhlaknya. Iman yang kuat akan mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedangkan iman yang lemah akan melahirkan akhlak yang buruk dan keji (surat Ibrahim/14:34). Akhlak dalam perspektif Islam bukan hanya hasil pemikiran dan tidak berarti lepas dari realitas hidup, melainkan persoalan yang terkait dengan akal, ruh, hati, jiwa, realitas dan tujuan yang digariskan oleh akhlak quraniah/akhlak mulia. Substansi akhlak adalah sistem perilaku yang diwajibkan agama Islam yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan. Dalam terminologi tasawuf, pembentukan akhlak bertujuan menanamkan karakter-karakter yang melekat pada zat, sifat, asma dan af’al Rab Yang Maha Esa pada perilaku manusia (peserta didik). Secara teoritis akhlak dapat diamati dari tiga aspek, yaitu: mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Dengan demikian, akhlak merupakan reinkarnasi sifat-sifat ilahiyah yang ada pada diri seseorang sebagai manifestasi keyakinan dalam bentuk perkataan dan perbuatan yang menunjukkan kebaikan dalam segala aktivitasnya.

Dalam konsep Character Education Quality Standard, merekomendasikan 11 prinsip karakter untuk dijadikan panduan masyarakat dunia sebagai dasar pendidikan akhlak yang efektif. Prinsip-prinsip tersebut dalam ajaran Islam berkenaan dengan nilai dan moral mengenai mukashafah, mujahadah, dan muqarabah, dalam bentuk tahaquq, ta’aluq, dan takhalluq. Karena itu, seharusnya hakikat tujuan utama pendidikan adalah untuk membentuk akhlak manusia yang good and smart baik dalam pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dalam tujuan inilah, kehadiran lembaga pendidikan diperlukan. Institusi pendidikan baik formal maupun non formal pada hakikatnya merupakan sarana transformasi ilmu pengetahuan dan menumbuh kembangkan nilai-nilai moral, karakter dan akhlak mulia bagi para peserta didiknya. Namun ironisnya, pendidikan yang berfungi sebagai agent of change bidang akhlak dan intelektual, di Indonesia saat ini tampaknya belum berjalan berimbang. Pendidikan tidak lebih dari sebuah alat yang hanya berfungsi untuk mengembangkan potensi pikir peserta didik, tanpa melakukan hal yang sama pada potensi lainnya, akibatnya justru menjadi ancaman dan bumerang bagi keberlangsungan suatu generasi di dalam masyarakat atau bangsa.

Pendidikan di Indonesia sebagai salah satu variabel pembentukan akhlak dan akademis, masih banyak menyimpan berbagai pertanyaan yang belum dapat terjawab dengan jelas dan tuntas, terutama berkaitan dengan tujuan utama pendidikan yaitu membentuk akhlak. Atas dasar inilah, diskursus akhlak ini menjadi topik utama (core thopic) yang tidak pernah habis-habisnya dibicarakan. Banyak pembicaraan tentang akhlak yang dilakukan para peneliti dan praktisi baik di dalam maupun luar negeri, di antaranya: Berkowitz Wolfgang dan Marvin di Amerika melakukan penelitian terkait dengan pendidikan akhlak berjudul: Moral Education and Character Education: The Relationship and Roles in Citizenship Education. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran sekolah dalam membantu perkembangan akhlak negara perlu difokuskan pada pengembangan akhlak yang lebih luas. Masih terkait dengan pendidikan akhlak adalah penelitian yang dilakukan oleh suatu lembaga di Amerika Serikat The What Works Clearinghouse (WWC) yang mengidentifikasi program-program pendidikan untuk mengembangkan karakter peserta didik dengan mengajarkan nilai-nilai inti (core values). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bukti yang meyakinkan mengenai pengaruh intervensi pendidikan akhlak terhadap perilaku (akhlak), pengetahuan, sikap dan nilai, serta prestasi akademik. Senada dengan Wolfgang adalah Thomas Lickona, Eric Schapes dan Catharine Lewis yang menjelaskan bahwa ada 11 prinsip pembentukan akhlak (moral) yang efektif. Prinsip-prinsip tersebut, yaitu: (1) Promotes core ethical values as the basis of good character. (2) Defines “character” comprehensively to include thinking, feeling, and behavior. (3) Uses a Comprehensive, intentional, proactive, and effective approach to character Development. (4) Create a caring school Community. (5) Provides students with Oportunities for moral Action. (6) Includes a meaningful and challenging academic curriculum that respects all learners, develops their character, and help them to succeed. (7)Strives to foster students ’self-motivation. (8) Engages the school staff as a learning and moral Community that shares responsibility for character Education and a student. (9) Fosters sharped moral leadership and long-rang support of the character education initiative. (10) Engages families and Community members as partner in the character-building effort. (11) Evaluates the character of the school, the school staffs functioning as character Education, and the extent to which students manifest good character.

Secara argumentatif para peneliti menyimpulkan dengan aklamasi bahwa persoalan akhlak menjadi inti tujuan hidup dan memiliki posisi prioritas utama untuk diupayakan pembentukannya melalui wadah pendidikan. Hanya saja, secara empiris teoritis, kajian akhlak yang telah dilakukan para peneliti tersebut, nampaknya masih berkisar pada tataran evaluatif teoritis belum menyentuh aspek substantif dan aplikatif pola-pola pembelajaran akhlak yang menyinkronisasikan antara teori dengan praktek, berjalan seiring dan sebanding. Itulah persoalan yang menjadi titik lemah yang ada dan belum terlihat konsepsi usulan realisasinya. Hal ini, tentu perlu kita terus-menerus mencarikan formula yang tepat. Karena pembentukan akhlak tidak bisa ditunda-tunda dan tidak bisa dilakukan secara parsial dan sporadis, tetapi harus integrasi, terencana, terukur dan berkelanjutan melibatkan semua unsur terkait; pemerintah, stakeholders, praktisi pendidikan, elemen masyarakat, dan juga ketersediaan beragam sarana pendukung dan model pendekatan yang sesuai, menarik dan menyenangkan (fun), di samping ketersediaan guru yang memadai, profesional dan proporsional.

 

*Makalah ini diajukan dalam acara perhelatan Silaturahmi Kerja Nasional Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Silaknas ICMI) tahun 2018, di Bandar Lampung, 6-8 Desember.

Share

Comment on "Membangun Sumber Daya Insani Berakhlak Al-Quran"

  1. Amrullah

    saya berharap ajaran tasawuf yang mencerminkan akhlaq Rasulullah saw bisa diadoposi sebagai mata pelajaran sejak usia dini di sekolah formal.

Leave comment