Mengenal dan memperhatikan Diri Ditinjau Dalam Perspektif Islam

Oleh: Dr. R. Bambang SM, MBA (Dosen Sekolah Tinggi Suffah Al Quran Abdullah Bin Masud)

Manusia hidup di dunia mestinya mengetahui identitas siapa dirinya dan untuk apa dia diciptakan. Apakah hanya sebatas untuk makan, minum, tidur, atau mencari uang saja?

Nyatanya banyak dari kita yang tidak mengetahui apa pentingnya mengenal, memperhatikan diri sendiri serta jati diri kita di hadapan Allah SWT. Pada hakikatnya, itu semua merupakan salah satu hal yang diperintahkan oleh Sang Pencipta kepada makhluknya.

Pentingnya Mengenal dan memperhatikan Diri

Ungkapan hikmah dari Yahya bin Muadz Ar-Razi mengingatkan bahwa mengenal dan memperhatikan diri sendiri adalah langkah pertama dalam mengenal Allah SWT sebagai Tuhan seluruh alam.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فَسَدَ جَسَدَهُ

 “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.

Cara Mengenal Diri Sendiri

Setelah mengetahui pentingnya mengenal diri sendiri, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui hakikat penciptaan manusia:

1. Mengamati diri sendiri

Seorang manusia hendaknya memperhatikan dirinya sendiri dan merenungi tujuan hidupnya dan mengetahui untuk apa ia diciptakan. Dengan mengamati dirinya sendiri seorang manusia bisa merasakan bahwa dalam dirinya ada jiwa yang bernaung dan tubuh adalah tempat di mana jiwa tersebut tinggal. Selayaknya seorang Muslim juga bisa memanfaatkan segala anggota tubuhnya untuk melaksanakan kewajibannya kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.

2. Mengetahui hakikat penciptaannya

Manusia diciptakan dengan suatu tujuan dan hakikat tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam firman Allah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

3. Bersyukur kepada Allah SWT

Dengan mensyukuri nikmat Allah Subhana Wa Ta’ala seorang manusia dapat mengenali dirinya dengan baik dan mengenal hakikat penciptaannya. Seseorang yang mensyukuri nikmat Allah tentunya akan senantiasa menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa dan segala yang ia miliki adalah milik Tuhannya. Perintah untuk mensyukuri nikmat Allah tersebut dijelaskan dalam ayat Alqur’an berikut:

 وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim : 7)

Usaha untuk mengenal dan memperhatikan diri secara sungguh–sungguh tentang diri kita atau menaruh minat dengan cara pandang, mengamati dengan sungguh-sungguh sehingga mengindahkan diri kita. Oleh karenanya dengan perintah mengenal atau memperhatikan diri ini Alquran  menyebutkan;

فَلۡیَنۡظُرِ الۡاِنۡسَانُ مِمَّ خُلِقَ  

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan ?” ( QS. Ath-Thaariq :5 )

Seseorang yang mengenal dan menyadari jati dirinya akan mengenal Tuhannya. Hakikat ini tercermin juga dalam Firman Allah:

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Dia menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang orng yang fasik. (QS. Al-Hasyr: 19 )

 Minimalnya ada  4 (empat) cara yang ditempuh Al-Quran  untuk menggugah hati manusia untuk mengenal Allah  sambil mengarahkan guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

  1. Mengajak untuk memperhatikan dan mempelajari keadaan manusia, dari segi asal-usul, proses kejadian, evolusi kehidupan serta akhir perjalanan hidupnya.
  2. Memerintahkan manusia untuk memperhatikan dan mempelajari alam raya.
  3. Menggugah lahirnya kesadaran sejarah dengan menguraikan sejarah umat manusia untuk dipetik yang baik dan hindari suatu penyebab kehancuran.
  4. Janji dan ancaman, baik duniawi maupun ukhrawi.

Oleh karenanya Al-Quran memberikan suatu peringatan yaitu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang orang yang beriman ,bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok  ( akherat ) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Alah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan ( QS. Al- Hasyr: 18 )

Dalam ayat di atas Allah mengingatkan kepada manusia bahwa kamu semua tidak akan mampu melakukan dan memperhatikan apa yang telah diperbuatnya. Hal itu disebabkan karena banyaknya manusia yang ingkar kepada Allah. Dan memang kodratnya manusia adalah makhluk yang lemah, khilaf dan dhoif, sehingga Allah menyebutnya kalimat untuk bertakwa kepada Allah dua kali, di awal dan di akhir perintah agar manusia memperhatikan perbuatannya, karena Allah Subhana Wa Ta’ala maha mengetahui apa yang telah dikerjakannya.

Begitu pentingnya memperhatikan diri, hingga Allah perintahkan agar manusia memperhatikan perbuatannya. Ini menjadi isyarat bahwa ada diantara kita yang tidak mau memperhatikan dirinya dan perbuatannya. Semoga kita tidak termasuk bagian dari apa yang dijelaskan pada surat Al-Hasyir ayat 19. Aamiin

 

Share

Leave comment