Sambutan Seminar Internasional Kesehatan ala Rasulullah

بسم الله الرحمن الرحيم

Sambutan Seminar Internasional Kesehatan

Sabtu 21 Sya’ban 1440/27 April 2019

Hotel Sheraton,LAMPUNG

 

Yang saya hormati,

  • Menteri Kesehatan Republik Indonesia, diwakili Direktur Kemenkes RI, Dr. dr. Ina Rosalina, Sp.A (K), M. Kes., MH. Kes.
  • Gubernur Provinsi Lampung, Bapak Hi. M. Ridlo Ficardo, M.Si;
  • Pembina Utama Sekolah Tinggi Shuffah al-Quran Abdullah bin Masud, KH. Yakhsyallah Mansur, MA
  • Ketua Dewan Pengawas Sekolah Tinggi Shuffah al-Quran Abdullah bin Masud, Dr. Ir. Ach. Ariffien Bratawinata, M.Agr
  • Kapolda Lampung, Brigjen Pol Purwadi Arianto
  • Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten dan Kota se-Lampung, Pimpinan Rumah Sakit se-Lampung
  • Pimpinan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan se- Lampung
  • Anggota IDI (Ikatan Dokter Indonesia), IAI (Ikatan Apoteker Indonesia), PBI (Perkumpulan Bekam Indonesia) dan IBI (Ikatan Bidan Indonesia) se- Lampung
  • Para pembicara dan moderator serta
  • Para peserta seminar dan hadirin sekalian yang saya banggakan.

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

الحمد لله ربّ العالمين والصّلاة والسّلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى أله وصحبه أجمعين. أما بعد:

 

Alhamdulillah, segala puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua sehingga hari ini kita dapat dipertemukan untuk mengikuti acara Seminar Internasional Kesehatan yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Shuffah al-Quran Abdullah bin Masud (STSQABM).

Sekilas informasi, STSQABM adalah perguruan tinggi swasta di Lampung, kehadirannya bersifat adaptif, akomodatif dan responsif terhadap berbagai perkembangan informasi dan transformasi global serta kemajuan sains dan teknologi. Secara terminologi Shuffah berati lembaga pendidikan tinggi pada masa Rasulullah SAW bertempat di serambi masjid Nabawi di Madinah. Sementara al-Quran adalah induk dari segala sumber ilmu pengetahuan. Jadi Shuffah al-Quran berati Perguruan Tinggi yang menyediakan dan melayani beragam kajian multidisipliner berbasis al-Quran dan tidak mengenal dikotomi antar satu bidang ilmu dengan lainnya.

Visi misi STSQABM adalah menjadi Lembaga Pendidikan unggul berbasis al-Qur’an dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam upaya tegaknya syariat Islam yang rahmatan lil ‘alamin, mendorong lahirnya cendekiawan yang mandiri, berintegritas, mengedepankan nilai-nilai qurani, solidaritas sosial, kesejahteraan dan akhlak mulia, menanamkan nilai-nilai al-Qur`an dan al-Sunnah yang tercermin dalam setiap mata kuliah, memberikan dasar-dasar penguasaan IPTEK berbasis al-Qur’an agar dapat mengolah dan memanfaatkan bumi dan isinya untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat secara merata, mendorong lahirnya para sarjana dan intelektual Muslim berwawasan global, melakukan pengkajian, penelitian, pengabdian dan pelatihan yang bermanfaat bagi pengembangan komunitas akademika dan masyarakat multikultural, serta memberikan dasar-dasar pemahaman tentang urgensi kesatuan umat Islam di seluruh penjuru dunia; melalui media berbasis digital dalam upaya menyeru umat Islam kembali kepada ajarannya yang satu, yaitu Islam.

Sesuai visi dan misi di atas, maka Sekolah Tinggi Shuffah al-Quran Abdullah bin Masud keberadaannya selain memastikan program Tri Darma Perguruan Tinggi dapat berjalan secara sistemik, berhasil guna, tepat sasaran dan simultan, juga dapat berperan aktif mengambil bagian bersama elemen masyarakat lainnya dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang bersifat kritis dan strategis. Alhamdulillah, STSQABM telah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan besar berskala nasional, bahkan internasional seperti seminar nasional tentang: Korupsi yang disebut Extra Ordinary Crime bersama Ketua KPK Pusat bapak Agus Rahardjo, Terorisme, Radikalisme dan Intoleran bersama Pangdam II/Sriwijaya, bapak Mayjen TNI Sudirman, diskusi 4 Pilar Kebangsaan bersama wakil ketua MPR bapak Ahmad Muzani,  dan kali ini seminar Internasional Kesehatan yang akan dibuka Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp. M (K).

Diskursus kesehatan ini memiliki posisi dan memainkan peranan penting dalam menentukan bentuk, corak dan sistem sebuah tatanan komunitas manusia atau masyarakat bangsa. Maju atau mundurnya satu bangsa bergantung pada SDM yang cerdas dan sehat yang dimilikinya. Kedua faktor ini harus terintegrasi sebagai satu kesatuan yang utuh dan padu. Tapa ditopang kesehatan, kecerdasan tidak berarti apa-apa, demikian sebaliknya. Oleh karena itu, SDM yang dimiliki tidak cukup hanya cerdas (smart) saja, tatapi juga harus sehat, physically and mentally. Dengan demikian, faktor kesehatan ini menjadi sangat penting (tobe or not tobe) dalam membangun manusia paripurna (kaafah) sebagai generasi yang mampu mengoptimalkan potensi dirinya, membangun lingkungan, masyarakat dan bangsanya yang maju, kompetitif, berdaulat dan berwibawa serta mampu eksis menjadi subyek di era revolusi industri 4.0 yang menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotik yang disebut fenomena disruptive innovation yang dapat menciptakan berbagai unicorn atau start-up start-up baru.

Namun faktanya sungguh sangat ironi, indikator idealisme tersebut di atas cukup miris adanya, bila melihat realitas kesehatan masyarakat Indonesia justru menduduki peringkat ke 101 dari 149 negara. Menurut laporan The Legatum Prosperity Index 2017 menyebutkan, Indonesia menempati urutan ke 101 dari 149 negara dalam indeks kesehatan global. Tertinggal dari Malaysia, Thailand, Laos dan Vietnam. Indeks ini didasarkan pada kesehatan fisik, mental, infrastruktur kesehatan dan perawatan guna pencegahan berbagai wabah atau penyakit. Dibandingkan Singapura, misalnya, posisi Indonesia sangatlah jauh. Negara maju yang hanya seluas DKI Jakarta dengan penduduk sekitar 5 juta jiwa ini menjadi negara dengan indeks kesehatan terbaik nomor dua di dunia. Laporan A Baseline Analysis from the Global Burden of Disease Study 2015  memaparkan bahwa Indonesia sedang menghadapi berbagai epidemi, seperti malaria, tuberkolosis dan HIV mendapat nilai rendah yang artinya Indonesia harus berjuang keras melawan penyakit tersebut. Bahkan, Menteri Kesehatan RI sendiri menegaskan bahwa kondisi kesehatan masyarakat Indonesia masih mengkhawatirkan.

Fakta lain, Indonesia sedang dilanda beberapa masalah kesehatan yang terus meningkat yang menjadi beban dan tantangan utama dunia kesehatan di Indonesia. Berikut beberapa masalah dan tantangan seperti, Intra Uterine Fetal Death (IUFD), stunting (gizi buruk), hipertensi, diabetes mellitus, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Para ilmuwan modern bidang kedokteran dan kesehatan telah banyak melakukan berbagai penelitian dan uji coba ilmiah merumuskan formula diagnosa penyakit dan penanganannya, namun sejauh ini belum memperoleh hasil signifikan. Justru deret hitung formula diagnosa beragam penyakit yang dihasilkan, berbanding lurus dengan deret ukur peningkatan jumlah masyarakat Indonesia yang sakit. Artinya semakin meningkat produktivitas obat, semakin tinggi jumlah masyarakat yang menderita sakit. Pertanyaannya, mengapa demikian? Apa yang salah? Jawabnya, karena para sainstis, itu lebih mengandalkan kecerdasan otaknya, tanpa melibatkan kehadiran al-Quran dalam berpikir untuk mengatasi dan menyelesaikan permasalahannya.

Pada masa Rasulullah SAW istilah kesehatan tidak begitu dikenal. Hal ini karena beliau dan para sahabat jarang sakit. Semasa hidupnya, Rasulullah jarang sakit, beliau sakit ketika menerima wahyu pertama dan ketika hendak wafat, dikarenakan pola hidupnya memiliki nilai-nilai kebaikan yang baik untuk kesehatan jasmani maupun rohani. Pernah suatu ketika Madinah kedatangan dokter yang dikirim oleh Kaisar Romawi. Setelah beberapa waktu lamanya berada di Madinah, dokter tersebut kebingungan karena tidak menemukan seorang pun pasien yang sakit. Ia menganggur, tidak praktek yang akhirnya ia minta izin untuk kembali pulang ke negerinya. Sehat bagi Rasulullah dan sahabatnya adalah pakaian sehari-hari, barang biasa, bukan barang mahal dan sulit didapatkan. Tentu menjaga kesehatan tidaklah sulit, karena Rasulullah SAW sebagai teladan telah memberikan contoh hidup yang sehat, sesuai firman Allah:

لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الأخر وذكر الله كثيرا.

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah (al-Ahzab, 21)

Dewasa ini, bagi sebagian orang, sehat adalah sesuatu yang sulit. Berapa banyak orang menghabiskan sebagian uangnya untuk terapi, diet, membeli suplemen mahal dan lain-lain yang semuanya bertujuan untuk mendapatkan tubuh sehat. Tidak sedikit para lansia yang menghabiskan uang pensiunannya untuk berobat ke rumah sakit. Sebegitu sulitkah menjaga kesehatan? Lalu bagaimanakah hidup sehat ala Rasulullah? Adakah relevansi kesehatan ala Rasulullah dengan kesehatan konvensional? Mungkinkah adanya integrasi al-Thib Nabwai dengan ilmu kedokteran modern? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita dapatkan jawabannya dalam seminar ini, insya Allah.

Saya  mengucapkan selamat datang pada peserta seminar  di mana kita memiliki kesempatan untuk berbagi informasi tentang berbagai tips, strategi dan formula sehat menurut Rasulullah SAW serta penerapan hasil-hasil formulasi dalam membangun hidup sehat. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan inovasi serta memenuhi tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan sosial budaya khususnya di bidang kesehatan. Pada Seminar Internasional Kesehatan ini, tema yang diangkat adalah  “Kupas Tuntas Kesehatan Ala Rasulullah”. 

Berkaitan dengan tema tersebut saya menghadirkan para pembicara, yaitu:

  • Keynote Speaker,

dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Dinas Kesehatan Provinsi Lampung), dengan topik “Mengembalikan Pola Hidup Sehat  Masyarakat”

  • Para Panelis:
  • Dr. dr. Abdul Aziz al-Safi bin Ismail (Fakultas Kedokteran Lincoln Universitas Malaysia), dengan topik: Pengobatan Rasulullah dalam Tinjauan Sains.
  • Muhammad Iqbal Basri, M. Kes. Sp. S (Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makasar), dengan topik: Al-Quran dan Hubungannya dengan sistem Syaraf,
  • dr. Ina Rosalina Dadan, Sp. (AK), M.Kes, MH, Kes (Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kemenkes), dengan topik: Pengobatan Tradisional dan Kebijakan Pemerintah Dalam Penggunaan Obat-obatan Herbal, dan
  • Agung Yulianto, SE, Ak. M.Kom (Direktur Utama PT. HPAI), dengan topik: Prospek Penyediaan Produk Kesehatan Halal di Indonesia.

Seminar Internasional Kesehatan ini dapat terselenggara berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada para nara sumber, tim pakar, Asosiasi profesi, para sponsor yang berpartisipasi kegiatan seminar ini, para peserta seminar atas partisipasinya, serta pihak lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada segenap panitia yang telah bekerja keras demi suksesnya kegiatan ini. Saya menyadari bahwa penyelenggaraan seminar ini masih banyak kekurangan baik dalam penyajian acara, pelayanan administrasi maupun keterbatasan fasilitas. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Akhir kata semoga peserta seminar mendapatkan manfaat yang besar dari kegiatan ini sehingga mampu mewujudkan atmosfer kesehatan yang baik dan budaya sehat yang merata, berkelanjutan dan berkualitas sesuai pola sehat ala Rasulullah yang terintegrasi dengan perkembangan Iptek kedokteran modern.

Saya mengucapkan SELAMAT MENGIKUTI SEMINAR, dan terima kasih.

 

والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

 

Bandar Lampung, 21 Sya’ban 1440/27 April 2019

Sekolah Tinggi Shuffah al-Quran Abdullah bin Masud

 

 

Dr. L. Sholehuddin

Bidang Akademik

Share

Leave comment