Triune Brain Theory

Oleh : Muhammad Iqbal Basri, Ahli Syaraf Universitas Hasanudin, Makasar

Seekor Komodo mampu mencium bangkai kambing dalam jarak 15 km, bisa dibayangkan bagaimana tajamnya penciuman seekor Komodo

kelelawar sebenarnya tidak mempunyai penglihatan yang baik, tapi bagaimana seekor kelelawar tidak menabrak pohon yang tinggi pada malam hari?…hal itu disebabkan karena kelelawar bisa mengeluarkan suara ultrasonik yang nantinya akan dipantulkan oleh benda di hadapannya lalu ditangkapnya dengan kedua telinganya yang agak besar. Kelelawar adalah hewan yang mempunyai colliculus inferior yang lebih baik

Tentu kita sama pernah mendengar bahwa longlongan anjing menunjukkan sang anjing sementara mendengar orang yang lagi mendapat siksaan dari Allah SWT, demikian pula ringkihan seekor kuda berarti sang kuda sementara mengetahui keberadaan malaikat dan pada kisah yang lain sang kuda mampu merasakankejadian siksaan di dalam kubur

The cerebral neocortex, limbic system and brain stem come together and function hierarchically” (Paul D.MacLean)

Triune Brain Theory atau Teori Tiga-Satu Otak, pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Paul D. MacLean pada tahun 1970. Jika kita mengamati secara seksama otak manusia secara keseluruhan ternyata terdiri dari tiga lapisan yang saling menutupi satu sama lain. Lapisan terluar yaitu neocortex menutupi lapisan yang di tengah yaitu sistem limbik dan di sebelah dalam sistem limbik terdapat lapisan paling dalam yaitu brain stem dan diencephalon.

Secara filogenetik, neocortex dikenal sebagai Primate brain, sistem limbik sebagai Mammalia brain dan yang terdalam yaitu brain stem dan diencephalon sebagai Reptilia brain. Hal ini berarti bahwa sebenarnya otak manusia memang hanya satu tapi pada prinsipnya secara studi komparatif mengandung ketiga macam otak yang berbeda, meskipun dalam porsi yang berbeda. Sang Maha Pencipta telah memberikan porsi neocortex yang lebih besar dibanding dengan makhluk yang lain, karena fungsi neocortex bagi manusia lebih dominan.

Oleh karena otak manusia mengandung ketiga otak tersebut, maka tentunya segala fungsi yang dimiliki oleh makhluk lain, tentu juga masih ada pada manusia. Hanya karena fungsi neocortex itu yang begitu dominan sehingga menekan fungsi otak yang lain sehingga potensi tersebut tidak muncul, tapi tetap menjadi potensi yang luar biasa jika dapat dimanfaatkan. Dengan kata lain, potensi tersebut menjadi dormant atau tertidur dalam otak manusia. Begitulah Allah Subhana Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan begitu sempurna.

Sebelumnya kita telah dapat melihat bagaimana kemampuan komodo dan kelelawar, bagaimana dengan kemampuan manusia? Mari kita lihat beberapa kemampuan yang juga luar biasa yang dimiliki manusia

Uwais Al-Qarni, hidup pada zaman Rasulullah tapi tinggal di Yaman yang jauhnya berapa ratus km dari Madinah, setiap menjelang waktu shalat, Uwais senantiasa ke atap rumahnya untuk mendengar suara azan dari Bilal

Pernah suatu hari Khalifah Ali bin Abi Thalib, berjalan di kuburan, secara tiba-tiba ada seorang penghuni kuburan menyapanya, akhirnya terjadilah perbincangan antara keduanya

Mungkin anda bisa mengatakan bahwa beliau-beliau itu adalah orang yang istimewa, yang Allah tidak berikan kepada semua orang. Memang ada benarnya, tapi bukankah beliau-beliau juga sebenarnya orang biasa, dan kemampuan tersebut juga muncul bukan tanpa usaha. Baiklah, mari kita lihat contoh yang lain seperti Daniel Kish, orang buta yang mampu melakukan aktivitas tanpa menggunakan alat bantu, Daniel Kish mendeteksi benda-benda disekitarnya hanya dengan mengeluarkan bunyi “Klik” dari mulutnya, lalu pendengarannya menangkap echo dari suara klik tersebut. Dengan cara tersebut, dia mampu mengetahui jarak dan berapa besar benda tersebut, bukankah Daniel Kish telah memanfaatkan ilmu yang dimiliki oleh seekor kelelawar. Kemampuan tersebut dikenal sebagai “human echolocation”. Saat ini, banyak saudara kita yang tunanetra telah mengambil manfaat dari penemuan Daniel Kish ini.

Untuk bisa memanfaatkan kembali potensi yang terpendam itu, maka Prof. Makoto Shichida mengadakan modifikasi dari konsep triune brain tersebut, beliau menjelaskan bahwa potensi mamalia brain dan reptilia brain hanya bisa diakses melalui hemisfer kanan (otak kanan), karena hanya pada daerah tersebut terdapat neural circuit yang menjadi pintu untuk mengakses. Jadi untuk mengaksesnya kita harus “Switch to the Right”, hal itu bisa kita lakukan dengan memperlambat gelombang otak kita yaitu dengan jalan meditasi. Tapi untuk bisa mengakses potensi yang lebih dalam yang terletak pada diencephalon maupun brain stem dibutuhkan kondisi emosi yang baik, kondisi yang nyaman dan aman, tidak boleh dalam keadaan tertekan ataupun takut.

Oleh karena gelombang otak anak-anak masih didominasi oleh gelombang lambat sehingga anak-anak lebih mudah mengakses kemampuan tersebut. Semakin muda usia anak, semakin mudah mereka melakukannya. Tapi, meskipun demikian anak-anak yang dalam kondisi tertekan atau dalam kondisi ketakutan sehingga mereka tidak merasa aman dan nyaman, tetap kesulitan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Tapi bahkan sebaliknya, hanya dengan memperbaiki hubungan orang tua-anak, yang mana orang tua lebih mengedepankan rasa kasih sayang kepada anaknya dalam setiap hal, senantiasa memberikan pujian terhadap segala usaha yang telah dilakukan sang anak, banyak hal masalah pendidikan telah teratasi. Tiba-tiba saja, Anak-anak mulai memperlihatkan potensi yang dimilikinya. Maka tak salah jika Prof. Makoto Shichida mengatakan “Right-Brain Education is a soul education”. Sehingga pendidikan berbasis otak kanan bisa menjadi solusi bagi berbagai permasalahan di dunia pendidikan saat ini terutama dalam membentuk karakter bangsa.

(Materi ini disampaikan pada acara Seminnar Internasional  “Seminar Kesehatan Islami, Kupas Tuntas Kesehatan ala Rasulullah”  yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Shuffah al-Quran Abdullah Bin Masud di Bandar Lampung, Sabtu, 27 April 2019)

Share

Leave comment